Saya masih teringat mencuatnya istilah “no viral, no justice” di berbagai media pada akhir 2023 hingga awal 2025. Banyak pihak menilai fenomena ini menunjukkan lemahnya penegakan hukum, di mana sebuah kasus baru ditangani serius setelah viral.
Animo ini segera ditangkap oleh masyarakat dan media. Upaya menegakkan hukum atau mencari keadilan kini dianggap lebih mudah lewat jalur viral. Sayangnya, niat tulus sebagian orang untuk memviralkan demi keadilan tidak selalu dipahami demikian. Gerakan ini lalu bergeser, bukan lagi alat mencari keadilan yang murni, melainkan sarana mencari pembenaran.
Sebut saja kasus Yai Mim. Pada video pertama yang beredar, Sahara merekam kejadian di depan rumah Yai Mim dan menuduhnya menutup akses jalan. Video itu cepat menyebar dan memicu kemarahan publik. Banyak orang langsung menilai Yai Mim sebagai pihak bersalah. Beberapa hari kemudian muncul video lain yang menunjukkan bahwa jalan tersebut berada di atas tanah wakaf milik Yai Mim. Pandangan publik pun berubah.
Peristiwa ini menunjukkan betapa cepat opini terbentuk dan berganti hanya karena potongan peristiwa yang belum utuh.
Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi. Mengapa keadilan versi “video pertama” begitu mudah dipercaya dan dijadikan standar penghakiman bagi Yai Mim dan Sahara. Tak lama kemudian, muncul lagi versi lain yang mengganti ukuran “keadilan”—ada yang tetap berpihak pada Sahara, ada yang menilai kebenaran ada pada Yai Mim. Saya tidak akan panjang lebar membahas fenomena ini, karena yang ingin saya tekankan adalah bagaimana standar keadilan kita begitu mudah terombang-ambing oleh apa yang viral.
Untuk menjelaskan persoalan ini, pertama saya ingin meminjam konsep Bruno Latour dalam teorinya tentang Aktor-Jaringan (ANT). Walau teori ini prinsipnya tidak ditujukan untuk menjelaskan agensi manusia ke mesin, tetapi di bagian penjelasan teori ini dapat kita jadikan dasar pemahaman mengenai posisi aktor manusia dan non-manusia. Perlu diketahui bahwa Latour adalah salah satu pendiri dari ANT, yang menekankan bahwa objek dan subjek, manusia dan non-manusia, semuanya terhubung dalam jaringan kompleks yang saling mempengaruhi. Dalam ANT, objek non-manusia juga dianggap sebagai “aktor” yang memiliki peran dalam interaksi sosial.
Baiklah, mari kembali ke laptop. Dalam menjelaskan hubungan aktor manusia dan non-manusia, jika Latour mencontohkan sebuah pintu, saya akan mencoba memberikan konteks lain. Mari kita ambil contoh “ondo” tangga dari bambu yang disusun.
Dalam teknologi bernama tangga ini, ada pelimpahan sebagian kemampuan manusia kepada benda. Secara spesifik, kita bisa menyebutnya sebagai kemampuan memanjat. Tentu saja tidak seluruh kemampuan itu didelegasikan, hanya bagian fungsionalnya—yakni kemampuan untuk menaikkan posisi tubuh secara vertikal dengan bantuan struktur material. Artinya, tangga tidak menggantikan kehendak atau niat manusia untuk naik, tetapi mengambil alih sebagian kerja fisik yang semula dilakukan oleh tubuh.
Dengan cara ini, ondo menjadi aktor yang turut bekerja dalam jejaring tindakan: ia bukan sekadar alat pasif, tetapi bagian dari sistem aksi di mana manusia dan benda saling menegosiasikan fungsi. Di sinilah Latour menekankan bahwa tindakan tidak pernah sepenuhnya milik manusia; sebagian darinya sudah diserahkan pada benda-benda yang kita ciptakan untuk membantu kita bertindak.
Dalam proses delegasi ini, selalu terjadi reduksi—penyempitan dari kemampuan manusia yang semula utuh menjadi hanya fungsi mekanis yang bisa digantikan benda. Tangga, misalnya, mengambil alih bagian fungsional dari kegiatan memanjat, tetapi tidak bisa meniru seluruh pengalaman tubuh, keseimbangan, dan intuisi manusia ketika bergerak ke atas. Di sinilah muncul apa yang disebut sebagai “keterbatasan teknologi” ia hanya mampu menyalin sebagian kemampuan, tidak pernah sepenuhnya menggantikannya.
Latour juga mengingatkan bahaya dari proses ini, yaitu ketergantungan yang membuat manusia perlahan lupa pada kemampuan asalinya. Dalam kasus tangga, yang terlupakan adalah kemampuan memanjat itu sendiri. Sekarang, coba tanyakan kepada generasi Z, berapa banyak di antara mereka yang bahkan tak lagi punya keberanian, apalagi kemampuan, untuk memanjat pohon seperti yang dulu biasa dilakukan anak-anak kampung.
Sekarang mari kita letakkan teori ini pada “video” viral. Dalam konteks ini, video dapat dipahami sebagai bentuk delegasi sebagian memori manusia kepada medium buatan. Melalui video, pengalaman dan peristiwa yang semula hidup dalam ingatan dialihkan menjadi rekaman visual yang bisa disimpan dan dibagikan. Di titik ini terjadi reduksi, karena apa yang awalnya merupakan pengalaman utuh—dengan suasana, emosi, dan konteks waktu—menyusut menjadi potongan citra yang berdiri sendiri.
Selain reduksi, ada pula kondisi pelepasan, ketika manusia menyerahkan sebagian beban mengingat kepada media, lalu tanpa sadar juga menyerahkan sebagian kedalaman pengalamannya. Video memang menyimpan, tetapi tidak merasakan. Ia mengingat tanpa memahami, menyimpan tanpa menghayati. Dan di sinilah awal mula jarak antara pengalaman yang benar-benar terjadi dan dialami mulai memudar dan kadang representasinya mulai melebar.
Teori selanjutnya yang bisa kita gunakan untuk menjelaskan penyalahgunaan “viral” adalah konsep bias informasi. Dalam literatur ilmiah, information bias sering disebut juga measurement bias atau classification bias, yaitu bentuk kesalahan sistematik yang terjadi ketika informasi dikumpulkan, dilaporkan, atau diklasifikasikan secara tidak akurat. Bias ini menyebabkan distorsi dalam penilaian terhadap hubungan antara sebab dan akibat, karena data yang diterima tidak lagi merepresentasikan kenyataan sebagaimana mestinya.
Dalam konteks “video viral,” bias informasi terjadi ketika proses perekaman, pengeditan, atau penyebaran video menciptakan bentuk “pengukuran realitas” yang tidak utuh. Potongan video berfungsi seperti alat ukur yang tidak dikalibrasi—ia menampilkan sebagian kecil dari peristiwa, tetapi dengan bobot makna yang dibesar-besarkan oleh konteks digital. Di sini terjadi apa yang dalam penelitian disebut differential misclassification: kesalahan klasifikasi yang lebih sering muncul pada satu sisi daripada sisi lainnya.
Dalam kasus viral, potongan video yang lebih emosional atau dramatis cenderung diulang dan diperkuat, sementara bagian yang datar atau menjelaskan konteks justru diabaikan.
Akibatnya, publik menerima data yang sudah bias sejak awal. Video yang tampak objektif sesungguhnya telah memuat systematic error dalam representasi peristiwa, sehingga penilaian publik terhadap “pelaku” dan “korban” pun ikut bergeser. Di ruang digital, kesalahan itu diperparah oleh algoritma yang memperkuat sisi paling sensasional dari informasi. Dengan demikian, yang viral bukanlah fakta, melainkan hasil pengukuran yang bias tentang kenyataan itu sendiri.
Dalam kasus Yai Mim dan Sahara, dua video yang beredar memperlihatkan bagaimana potongan visual dapat membentuk makna yang berbeda dari peristiwa yang sama. Video pertama menyorot ketegangan di depan rumah dan dengan cepat menarik perhatian publik. Video berikutnya dari pihak Yai Mim menampilkan rekaman lain yang menunjukkan konteks lokasi dan hubungan antarwarga. Kedua video itu berdiri sebagai fragmen dari kenyataan yang lebih luas. Keduanya sama-sama membawa sudut pandang dan muatan emosional masing-masing. Dari sini tampak bahwa dalam ekosistem viral, setiap potongan visual berpotensi menjadi alat pembentuk persepsi—tergantung bagaimana ia direkam, disebarkan, dan diterima oleh publik.
Melihat apa yang diingatkan oleh teori di atas, tampaknya kita harus mempertanyakan kembali bahwa yang viral itu belum tentu justice. Kita perlu merefleksi ulang cara berjuang di ruang digital. Upaya mencari keadilan melalui jalur “no viral, no justice” seharusnya dibarengi dengan pertimbangan yang matang, niat yang tulus, dan kesadaran akan keterbatasan media yang kita gunakan. Ketika perjuangan dilakukan lewat perangkat yang bekerja dengan logika mesin dan algoritma, sebagian dari makna dan pengalaman manusia telah tereduksi bahkan sebelum sampai ke layar. Keadilan yang lahir dari potongan seperti ini mudah menguap bersama gelombang viral berikutnya.
Akhir-akhir ini saya juga merasa resah melihat komentar di media sosial. Kalimat seperti “dikasih fakta kok kepanasan” atau “itu kan faktanya” terdengar di mana-mana, seolah apa yang tampak di video sudah cukup untuk menentukan benar dan salah. Padahal kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah yang kita sebut fakta itu memang mencerminkan seluruh peristiwa, atau hanya bagian yang sempat terekam, atau bahkan merupakan bentuk artificial dari fakta yang telah tereduksi—baik sengaja maupun tidak sengaja. Terlebih lagi, bagaimana jika fakta itu sendiri adalah hasil dari bias informasi yang akhirnya berakibat pada biasnya standar kebenaran dan tentu saja penilaian kita terhadap yang adil.
Lebih berbahaya lagi, ketika fakta itu sudah mengandung bias informasi—distorsi yang sistematik dan tak selalu disadari—maka publik bisa merasa paling tahu padahal sedang tersesat di antara potongan realitas. Pada akhirnya, tidak semua yang viral adalah justice, dan tidak semua yang senyap kehilangan keadilan. Jadi mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan sekarang adalah, yes, it’s viral — but do we still have justice?

