Penggunaan AI untuk mencari informasi terus meningkat, terutama di kalangan muda. Reuters Institute Digital News Report 2025 mencatat bahwa 7% pengguna berita global kini mengandalkan AI sebagai alat pencarian informasi, dengan angka yang naik menjadi 15% pada kelompok usia di bawah 25 tahun. Meski semakin populer, AI tidak selalu memberikan jawaban yang akurat. Penelitian EBU–BBC pada Januari 2025 menemukan bahwa 45% jawaban AI terkait berita mengandung kesalahan signifikan. Untuk menjawab risiko tersebut, European Broadcasting Union (EBU) bersama BBC News merilis AI Toolkit 2025 sebagai panduan penggunaan AI yang aman, etis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Toolkit ini relevan secara global, termasuk bagi Indonesia yang masih rentan terhadap misinformasi dan hoaks di ruang digital.
Mengapa Penggunaan AI Secara Bijak Penting?
Penggunaan AI secara bijak penting untuk mencegah kesalahan informasi yang dapat memengaruhi opini publik. Tanpa verifikasi dan konteks yang tepat, jawaban AI dapat mengaburkan fakta dan menimbulkan bias yang tidak disadari. Dengan pendekatan yang hati-hati, AI tetap dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat tanpa mengurangi integritas informasi di ruang publik.
Toolkit tersebut menegaskan bahwa AI adalah alat bantu, bukan sumber kebenaran. Informasi yang dihasilkan perlu diuji sebelum diterima atau dibagikan. Prinsip pertama yang ditekankan adalah verifikasi informasi. Pengguna dianjurkan membandingkan jawaban AI dengan rujukan kredibel seperti media resmi, lembaga pemerintah, jurnal akademik, atau publikasi institusi. Langkah ini penting untuk mencegah jebakan informasi salah yang disampaikan dengan bahasa meyakinkan.
Prinsip kedua adalah memahami konteks informasi. AI mampu menyusun jawaban rapi dan logis, tetapi tetap bisa keliru jika konteks waktu, tempat, atau situasinya tidak sesuai. Prinsip ketiga adalah membedakan fakta dan opini. Dalam banyak kasus, AI mencampurkan keduanya secara halus. Keterampilan literasi digital menjadi penting agar publik tidak menjadi bagian dari rantai misinformasi.
Dalam konteks Indonesia, toolkit ini memiliki urgensi tersendiri. Dengan penetrasi internet mencapai 79,5% menurut APJII 2024, masyarakat semakin aktif di ruang digital, tetapi budaya verifikasi masih lemah. Toolkit ini dapat membantu guru, pelajar, jurnalis, peneliti, dan masyarakat umum agar tidak memperlakukan AI sebagai “mesin kebenaran”, melainkan alat bantu yang harus diawasi manusia.
Pada akhirnya, penggunaan AI secara bijak adalah tanggung jawab bersama. Teknologi seharusnya memperkuat kualitas informasi publik, bukan menambah kebingungan. Dengan mengikuti langkah-langkah dalam AI Toolkit 2025, publik dapat memanfaatkan AI secara lebih aman, kritis, dan bertanggung jawab demi terciptanya ruang digital yang lebih sehat di Indonesia.

